[Pocong Merah ] Dari Kegelapan Korupsi... Lahir Sebuah Teror Tak Terbayangkan

"Di balik dinding megah Kantor DPRD Jogja, bukan hanya uang rakyat yang dikubur. Sutarman, arwah pengkhianat yang dibungkus kain merah, bangkit untuk menuntas dendam pada mereka yang menggali kuburannya. Saat Rani membongkar dokumen korupsi triliunan, ia tak cuma melawan elit politik—tapi juga teror pocong yang hidup dari darah ketamakan. Siapakah yang lebih mengerikan: koruptor yang menyembunyikan mayat, atau mayat yang memburu koruptor?"



Hilangnya Dimas

Kantor DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta berdiri megah di tengah pusat kota, dikelilingi pohon beringin tua yang dahan-dahannya seperti tangan-tangan keriput menjulur ke langit. 

Bangunan bergaya kolonial Belanda itu seolah menyimpan rahasia di setiap sudutnya: jendela-jendela tinggi dengan kaca buram, lantai kayu yang berderit di tengah malam, dan lorong-lorong panjang yang jarang dijamah sejak renovasi tahun 1990-an. 

Bagi Rani, gedung itu adalah tempat magang yang ia impikan sejak kuliah di Ilmu Politik UGM. Tapi malam itu, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk.

Hari itu, Jumat malam. Rani dan Dimas, sesama staf magang, mendapat tugas menyusun laporan keuangan proyek jalan tol Yogya-Solo yang akan dibahas dalam rapat mendadak. Sejak siang, Rani merasa ada yang aneh. Suasana kantor terasa lebih sunyi dari biasa, bahkan para staf senior pulang lebih awal dengan alasan tidak jelas. Hanya Dimas yang tetap tenang, sibuk menghitung angka-angka di layar laptopnya.

“Ran, lo perhatikan nggak? Data dana aspirasi di sini nggak nyambung sama laporan Bappeda,” gumam Dimas tiba-tiba, matanya masih tertuju pada spreadsheet. Rani mendekat, mencium bau kopi hitam yang selalu menemani kerja lembur Dimas. Tapi ketika ia melihat angka yang Dimas tunjuk, jantungnya berdebar. Ada selisih hampir Rp 15 miliar yang “hilang” dari anggaran proyek.

“Ini… ini kesalahan sistem, kan?” tanya Rani, suaranya gemetar.
Dimas menggeleng, wajahnya pucat. “Aku sudah cek dari kemarin. Dana ini dialihkan ke rekening shell company di Singapura. Lihat ini—” Ia membuka folder rahasia di komputernya, berisi dokumen transfer fiktif bertanda tangan Ketua Komisi C DPRD Jogja.

Sebelum Rani sempat protes, lampu kantor tiba-tiba padam. Hanya cahaya laptop yang menyala, memantulkan bayangan hitam di dinding. Suara langkah kaki berat bergema dari lorong sebelah—seperti seseorang berjalan dengan kaki terkulai.

“Penjaga malam lagi patroli?” bisik Rani mencoba menenangkan diri.
Tapi Dimas sudah berdiri, napasnya tersengal. “Itu… bukan manusia.”

Dari lorong, suara langkah semakin dekat. Tap… tap… tap… Diiringi bunyi kain kasar terseret di lantai. Rani melihat bayangan hitam melintas di bawah pintu—tanpa bentuk kaki, hanya gumpalan gelap yang bergerak lambat. Dimas menekan tombol darurat di dinding, tapi tidak ada respon.

“Kita harus keluar. Sekarang!” seru Dimas, menarik lengan Rani. Tapi saat mereka sampai di pintu tangga darurat, kunci telah digembok dari luar. Suara langkah itu kini ada di belakang mereka.

“Jangan lihat ke belakang…” desis Dimas.

Tapi Rani tidak tahan. Ia menoleh.

Di ujung lorong, sesosok figura tinggi berdiri membelakangi mereka. Seluruh tubuhnya terbungkus kain kafan merah kotor, dengan tali pocong yang menjuntai di leher. Kepalanya tertunduk, tapi Rani bisa merasakan tatapan dingin menembus kegelapan.

“Lari!” teriak Dimas, mendorong Rani ke ruang server. Mereka mengunci pintu, tapi suara kain merah itu terus mendekat—ssst… ssst… ssst…—seperti gesekan kapur di papan tulis.

“Kita harus sembunyi,” bisik Dimas, membuka lemari kabel sempit. Tapi saat Rani masuk, Dimas justru mundur. “Aku harus ambil flashdisk bukti korupsi itu. Tunggu di sini.”

“Jangan! Itu bahaya!” Rani berusaha menariknya, tapi Dimas sudah keluar. Dari celah lemari, Rani melihat Dimas berlari ke meja kerjanya. Saat itu juga, lampu merah menyala berkedip-kedip. Dalam cahaya strobo, pocong merah itu tiba-tiba sudah di depan Dimas—tangan panjangnya meraih leher Dimas.

“KAMU TIDAK BOLEH BONGKAR RAHASIA KAMI…” suara parau keluar dari balik kain kafan.

Rani menjerit, tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Ia menyaksikan Dimas terangkat ke udara, wajahnya biru kehabisan napas. Pocong itu membuka mulutnya—bukan mulut manusia, melainkan lubang hitam berisi cacing-cacing bergeliat. Sebelum Rani bisa bereaksi, tubuh Dimas tersedot ke dalam kegelapan itu.

Lampu kembali normal. Ruangan kosong. Hanya laptop Dimas yang masih menyala, menampilkan pesan: “JANGAN CARI AKU. DIA ADA DI SINI.”

Di lantai, sehelai kain merah berbau anyir darah menggulung seperti ular.

Legenda Kain Merah

Interogasi dan Kecurigaan

Kantor DPRD Jogja pagi itu dipenuhi suara hiruk-pikuk yang tak biasa. Seragam polisi berbaur dengan jas hitam staf senior yang mondar-mandir sambil berbisik khawatir. Rani duduk di ruang tunggu lantai 2, tangannya masih gemetar memegang cangkir kopi yang sudah dingin. Matanya merah sembab. Sejak kejadian malam itu, ia tak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, bayangan pocong merah dan teriakan Dimas bergema di kepalanya.

“Ibu Rani, kami perlu klarifikasi lagi.”

Suara itu membuatnya tersentak. Di depan pintu, dua polisi berseragam lengkap dan seorang pria berkemeja putih rapi—Bambang, staf khusus Ketua DPRD—menatapnya dengan tatapan tak ramah. Ruangan terasa sesak tiba-tiba.

“Kalian sudah tanya aku tiga kali,” protes Rani, suaranya parau.
Bambang tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Kami hanya ingin memastikan konsistensi cerita Anda. Menurut CCTV, Anda dan Dimas adalah orang terakhir di kantor. Lalu… bagaimana mungkin rekaman malam itu terhapus sendiri?”

Rani menggigit bibir. Ia tak berani mengaku melihat pocong merah. Siapa yang akan percaya? Saat itu juga, ia menyadari sesuatu: lengan kiri Bambang terdapat tato samar berbentuk ular naga—simbol yang sama dengan logo shell company di dokumen korupsi yang ditemukan Dimas.

“Saya sudah bilang, lampu mati. Kami terpisah, dan Dimas… menghilang,” jawab Rani hati-hati.

Polisi senior mengetuk-ngetuk pena di meja. “Tapi tak ada tanda perkelahian atau forced entry. Kecuali…” Ia mendekat, bau tembakau menyengat dari napasnya. “Kecuali Dimas punya alasan untuk kabur. Misalnya, karena mencuri data.”

Rani nyaris menjerit. Mereka tahu soal dokumen itu.

Sebelum sempat bereaksi, pintu terbuka. Seorang lelaki tua berpakaian kusam—kaos lusuh dan celana pensiunan tentara—berdiri di ambang. Kulitnya keriput, tapi sorot matanya tajam.

“Sudah cukup. Anak ini tidak tahu apa-apa,” suaranya parau namun berwibawa.

Bambang langsung berubah pucat. “M-Mbah Sarnen? Ini bukan urusan Anda.”

“Urusan saya kalau nyawa orang dipertaruhkan,” geram lelaki tua itu. Ia menarik bangku dan duduk di sebelah Rani, tak peduli tatapan penuh kebencian dari Bambang.
Mbah Sarnen dan Kisah Sutarman

Setelah interogasi usai, Mbah Sarnen membawa Rani ke warung kopi kecil di belakang kantor DPRD. Udara pagi berbau gerimis, tapi Rani masih merasakan hawa dingin aneh di tulang belakangnya.

“Kau lihat kain merah, bukan?” Mbah Sarnen tiba-tiba bertanya sambil menyalakan rokok kretek.

Rani tercekat. “Anda… Anda percaya?”

“Saya penjaga malam sini dari 1980 sampai pensiun 2005. Banyak yang saya lihat.” Ia menatap gedung DPRD di kejauhan. “Termasuk Sutarman.”

“Sutarman?”

“Pegawai idealis. Tahun 1985, dia ketahuan mau bongkar skandal korupsi proyek pasar seni. Dana aspirasi rakyat dialihkan ke rekening pejabat. Tapi sebelum sempat ke media, dia dituduh mencuri uang negara.” Mbah Sarnen menghela napas. “Malam 17 Agustus 1985, sekelompok orang masuk ke kantor. Saya dengar teriakan dari ruang rapat. Saat saya berani masuk… tubuhnya sudah digantung di langit-langit, dibungkus kain kafan merah.”

Rani merinding. “Kenapa merah?”

“Kain merah untuk mengunci arwah korban kekerasan. Mereka takut Sutarman balas dendam. Mayatnya dikubur di bawah fondasi gedung ini saat renovasi 1990—sebagai tumbal agar proyek korupsi lancar.” Mbah Sarnen menatapnya tajam. “Sejak itu, setiap ada yang berani ungkap skandal, dia muncul. Pocong Merah.”

“Tapi kenapa sekarang? Kenapa Dimas?”

Mbah Sarnen mengeluarkan foto kusam dari dompetnya: potret seorang pemuda berpakaian kantor 80-an tersenyum di depan gedung DPRD. “Sutarman punya kebiasaan menulis di buku harian. Jika kau mau bukti, cari di arsip tua lantai 3. Tapi hati-hati… dia selalu mengawasi.”

Arsip Tua dan Bayangan Merah

Malam itu, Rani menyelinap kembali ke kantor. Di ruang arsip lantai 3—tempat yang bahkan staf senior hindari—ia bertemu Bima, wartawan tabloid misteri yang mengaku sedang menyelidiki hilangnya kakaknya di gedung ini tahun 2010.

“Kakakku juga bicara soal dokumen 1985 sebelum lenyap,” bisik Bima sambil membuka pintu berderit ke ruang arsip.

Ruangan itu seperti kuburan kertas: rak-rak berdebu penuh map cokelat usang, jendela tertutup kain terpal, dan bau apek campur kapur barus. Rani segera mencari kode arsip “ST/1985”.

“Ini dia!” seru Bima, menarik map tebal bertuliskan PROYEK PASAR SENI YOGYAKARTA 1985. Saat dibuka, halaman pertama adalah surat perintah pengalihan dana sebesar Rp 5 miliar (nilai fantastis di era itu) ke rekening atas nama “PT. Naga Mas”—perusahaan yang kini dimiliki keluarga Ketua DPRD.

Tiba-tiba, lilin yang mereka bawa padam. Angin dingin berputar dari sudut ruangan.

“Kita harus pergi,” desis Rani.

Tapi Bima memaksakan membuka halaman berikutnya. Dokumen-dokumen itu tiba-tiba berubah menjadi abu, diterbangkan angin menjadi pusaran hitam. Dari dalam abu, suara tangisan lirih terdengar: “Mereka bunuh aku… di sini… di ruang ini…”

Rani berbalik. Di belakangnya, sesosok bayangan tinggi berdiri—tubuhnya terbungkus kain merah compang-camping, tangan kehitaman dengan kuku panjang mengarah ke Bima.

“LIHAT!” teriak Bima.

Sebelum sempat lari, rak-rak arsip berjatuhan menghalangi pintu. Pocong Merah melayang mendekat, kain kafannya mengeluarkan bau busuk darah kering. Wajahnya sebagian terbuka: kulit membiru dengan mata putih tanpa pupil, dan mulut dijahit kasar dengan benang hitam.

“KALIAN TIDAK BOLEH LIAT…” suaranya seperti derit kayu tua.

Bima mengambil tongkat besi dan mengayunkan ke arah pocong itu. Tapi tangan hantu itu menembus dadanya. Bima terlempar ke dinding, darah mengucur dari hidung.

“LARI, RANI!” jeritnya sambil melempar flashdisk ke arah Rani. “BAWA INI!”

Rani berlari keluar, sementara jeritan Bima bergema di lorong. Saat menoleh, ia melihat Pocong Merah menyeret tubuh Bima yang pingsan ke dalam kegelapan arsip. Di tangannya, sehelai kain merah tergeletak—persis seperti yang ia lihat di meja Dimas.

Dokumen yang Tak Boleh Terungkap

Di kos-kosan, Rani membuka flashdisk Bima. Ada rekaman suara wawancara kakak Bima sebelum hilang: “Proyek 1985 masih berjalan. Mereka ganti nama, tapi modusnya sama—dana aspirasi jadi tumbal…”

Di folder rahasia, Rani menemukan daftar nama: anggota dewan era 80-an yang kini jadi taipan dan politisi berpengaruh. Termasuk nama ayah Bambang—staf licik yang menginterogasinya pagi tadi.

Pukul 3 pagi, Rani menerima pesan anonim: “BERHENTI CARI. ATAU KAU BERIKUTNYA.”

Tapi di balik jendelanya, sepotong kain merah tersangkut di pagar—seperti peringatan sekaligus ancaman.

Ruang Bawah Tanah

Panggilan dari Kegelapan

Rani berdiri di depan gudang tua di belakang kantor DPRD Jogja, tangannya menggenggam senter dan denah usang yang ditemukan di saku jaket Bima. Udara malam terasa lembap, dihiasi suara jangkrik yang seolah memperingatkannya untuk mundur. Sejak Bima diculik Pocong Merah dua hari lalu, ia tak bisa diam. Setiap kali menutup mata, ia mendengar jeritan Bima dan bayangan kain merah yang bergerak di kegelapan.

“Kau yakin mau masuk ke sana?”

Suara itu membuatnya terkejut. Mbah Sarnen muncul dari balik pohon beringin, wajahnya disinari bulan purnama yang membuat garis-garis keriputnya terlihat seperti sungai tua. Di tangannya, ia membawa kantong kain berisi garam kasar, bunga kantan kering, dan sebotol air yang diklaimnya “air pegunungan keramat”.

“Saya tidak punya pilihan. Bima dan Dimas masih ada di dalam,” jawab Rani, mencoba menyembunyikan getar suaranya.

Mbah Sarnen menghela napas. “Lorong ini bukan untuk yang hidup. Tapi jika kau nekat, ikuti saya.”

Dengan senter menyala, mereka mendorong pintu besi berkarat di belakang gudang. Suara gesekan logam berderit mengiris kesunyian. Di dalam, lorong sempit berlapis lumut menjalar ke bawah tanah. Udara pengap berbau tanah basah dan sesuatu yang lebih busuk—seperti daging membusuk.

“Ini dibangun tahun 1985 saat renovasi,” bisik Mbah Sarnen. “Untuk menyembunyikan mereka.”

Labirin Kematian

Lorong itu menurun tajam, dindingnya dihiasi coretan-coretan aneh: simbol lingkaran dengan mata di tengah, tulisan Jawa kuno, dan jejak tangan berwarna kecokelatan yang Rani tak ingin tahu asalnya. Setiap sepuluh langkah, Mbah Sarnen menaburkan garam di belakang mereka.

“Agar kita bisa pulang,” katanya singkat.

Tiba-tiba, suara lolongan melengking memenuhi lorong. Rani mengarahkan senter ke depan—sepasang mata merah menyala muncul dari kegelapan, diikuti suara derap kaki cepat.

“Jangan lari!” teriak Mbah Sarnen, tapi Rani sudah tersandung mundur.

Senter jatuh, memantulkan cahaya kaotis ke dinding. Dalam kilasan itu, Rani melihat mereka: puluhan sosok berbalut kain merah compang-camping, wajahnya hancur dengan mulut dijahit kawat. Tangan-tangan kehitaman meraih ke arahnya, mengeluarkan suara parau:

“KAMI TUMBAL… IKUTI KAMI…”

Mbah Sarnen menarik Rani ke ceruk di dinding sambil menyemburkan air keramat. Sosok-sosok itu menjerit kesakitan, tubuhnya menguap menjadi asap hitam.

“Arwah korban korupsi,” gerutnya. “Mereka dikubur hidup-hidup sebagai tumbal proyek.”

Rani gemetar. “Berapa banyak?”

“Ratusan. Dari tahun 80-an sampai sekarang.”

Ruang Penyiksaan

Setelah berjalan 15 menit, mereka tiba di ruang bawah tanah seluas lapangan basket. Langit-langitnya dipenuhi rantai berkarat dengan kait besi, lantai penuh noda hitam yang Rani sadari adalah darah kering. Di tengah ruangan, podium batu kuno dihiasi tulang-belulang tersusun rapi.

Tapi yang membuat Rani menjerik adalah dinding-dindingnya: puluhan tubuh terbungkus kain merah tergantung seperti layaknya daging di rumah jagal. Beberapa masih segar—Rani mengenali wajah Dimas di salah satunya, tubuhnya pucat dengan tali pocong melilit leher.

“DIMAS!” Rani berlari, tapi Mbah Sarnen menahannya.

“Itu jebakan. Lihat baik-baik.”

Saat Rani mendekat, wajah Dimas berubah menjadi tengkorak, kain merahnya mengerut seperti hidup. Dari balik tubuh-tumbuhan gantung, sosok tinggi muncul—Pocong Merah dengan benang jahit di mulut yang kini terurai, menunjukkan gigi-gigi runcing bercabang seperti ular.

“AKU TUNGGU KAU…”

Mbah Sarnen melemparkan bunga kantan ke arahnya. “LARI! KE PINTU BELAKANG!”

Kuburan Sutarman

Mereka terpojok di ruangan sempit di ujung labirin. Di sini, sebuah peti mati kayu jati lapuk terbuka sebagian, mengeluarkan bau anyir. Di dalamnya, kerangka berselimut kain merah utuh—tengkoraknya retak di pelipis, tanda dipukul benda tumpul.

“Sutarman,” bisik Mbah Sarnen. “Mayatnya dipindahkan ke sini tahun 2000 agar arwahnya tak bisa tenang.”

Tiba-tiba, suara langkah berat mendekat. Bima muncul di pintu, wajahnya pucat dengan mata sehitam batu bara. Di tangannya, pisau pemotong kabel berkarat.

“Bima! Kita harus—”

Tapi Bima menyerang. Rani menghindar, pisau itu nyaris mengiris bahunya. Mbah Sarnen berteriak: “Dia dirasuki! Pocong Merah mengendalikannya!”

Dalam perkelahian, Rani melihat sesuatu: di leher Bima terdapat kalung liontin berbentuk naga—sama seperti tato Bambang.

“Kau… keluarga koruptor itu?” teriak Rani.

Bima (atau sesuatu di dalamnya) tersenyum mengerikan. “Kakakku mati karena ingin membongkar rahasia. Sekarang, giliranku jadi penguasa di sini.”

Pengorbanan dan Pelarian

Mbah Sarnen menarik Rani ke dekat peti mati Sutarman. “Darahmu! Taruh di kain merahnya!”

Dengan gemetar, Rani menggoreskan pisau ke telapak tangan dan meneteskan darah ke kain kafan. Seketika, peti mati bergetar. Arwah Sutarman muncul di atasnya, lebih mengerikan dari sebelumnya: tubuhnya transparan dengan organ dalam bergeliat penuh cacing, mata menyala merah.

“AKU… BEBAS…”

Pocong Merah menjerit, menarik diri dari tubuh Bima. Pertarungan antara dua arwah memenuhi ruangan—angin berputar menghancurkan tulang-belulang, suara teriakan dari segala arah.

Rani menarik Bima yang pingsan, sementara Mbah Sarnen membuka jalan rahasia di balik peti. “Cepat! Sebelum mereka—”

Tapi terlambat. Tangan Sutarman yang sudah bebas meraih Mbah Sarnen. “Terima kasih… penjaga setia…”

Dengan senyum pasrah, Mbah Sarnen lenyap ditelan cahaya merah.

Buku Harian yang Terungkap

Di dalam peti, Rani menemukan buku harian Sutarman yang masih utuh. Halaman terakhir tertulis:

“17 Agustus 1985. Hari ini aku mati. Tapi selama satu keturunan mereka masih berkuasa, aku takkan beristirahat. Bantu aku…”

Di bawah tulisan itu, daftar 12 nama—termasuk ayah Ketua DPRD sekarang, dan satu nama yang membuat Rani membeku: “Bima Anggoro - Pengkhianat.”

Bima, yang kini siuman, melihat tulisan itu dan menjerit: “Aku tidak tahu! Mereka memaksa kakakku!”

Di kejauhan, suara kain merah kembali mendekat.

Pengakuan Berdarah

Sisa-Sisa Kebenaran

Rani duduk di kamar kos-kosan yang gelap, hanya diterangi layar laptop yang menampilkan rekaman microfilm dari liontin naga. Video hitam-putih itu menunjukkan adegan mengerikan: Sutarman muda diikat di kursi ruang rapat DPRD 1985, wajah babak belur, sementara lima lelaki berjas rapi menyiksanya dengan besi panas. Salah satu dari mereka—yang wajahnya mirip Ketua DPRD sekarang—mengeluarkan pistol dan menembak kepala Sutarman. Darah menyemprot ke dinding, lalu kamera bergoyang saat seseorang berteriak: “Kubur dia di bawah fondasi!”

Bima, yang duduk di sudut ruangan dengan wajah masih pucat, menggenggam liontin naga itu seolah ingin menghancurkannya. “Aku tidak tahu kakekku terlibat. Kakakku… dia mencoba membongkar ini semua, tapi…”

“Tapi kau masih keturunan darah mereka,” potong Rani tanpa ampun. Di layar, ia melihat satu detail: di dinding ruang rapat 1985, ada lukisan wayang Semar yang sama persis dengan yang ada di kantor Ketua DPRD sekarang. “Kita harus masuk ke ruang rapat. Bukti akhir ada di sana.”

Bima menggeleng. “Itu bunuh diri. Mereka sudah tahu kau pegang microfilm.”

Tapi Rani sudah berdiri, mengumpulkan kertas-kertas bukti korupsi yang ia sembunyikan di bawah kasur. “Kau dengar suara Mbah Sarnen tadi malam? ‘Hanya yang hidup bisa mengakhiri ini.’”

Sebelum Bima bisa menjawab, lampu kamar padam. Di luar jendela, kain merah berdesir seperti ular berbisik: “Datanglah… aku tunggu…”

Ruang Rapat yang Bernyawa

Malam itu, Rani menyusup ke kantor DPRD melalui pintu belakang yang sudah dibobol Bima. Ruang rapat utama—tempat Sutarman dibunuh—terasa seperti makam hidup. Lukisan Semar di dinding seolah mengawasi mereka dengan mata berkedip, sementara kursi-kursi kulit hitam tersusun melingkar seperti arena persidangan.

Di tengah ruangan, podium kayu tua yang sama dari video microfilm masih berdiri. Rani menyentuhnya—dan tiba-tiba, dunia berputar.

Kilas Balik: 17 Agustus 1985
Sutarman terikat di kursi, darah mengalir dari pelipisnya. Lelaki berjas cokelat (kakek Ketua DPRD sekarang) menempelkan besi panas ke lengannya. “Kau pikir bisa menggulingkan kami? Keluarga kami sudah menguasai Jogja sejak Belanda!”

Sutarman meludahi wajahnya. “Rakyat akan tahu kebusukanmu!”

Lelaki itu tertawa. “Rakyat hanya peduli beras murah. Tapi kau… kau akan jadi legenda.” Ia mengacungkan pistol. “Legenda hantu pengganggu!”

Kembali ke Masa Kini

Rani terlempar dari kilas balik, nafasnya tersengal. Di depannya, lukisan Semar kini berubah—wajahnya menjadi tengkorak, dan di tangannya ada kain merah berlumur darah.

“Di sini… di podium,” bisik Bima. Ia menemukan panel rahasia di bawah podium. Di dalamnya, kotak besi berisi surat pernyataan bertanda tangan Ketua DPRD: “Saya mengakui bahwa proyek Jalan Tol Yogya-Solo adalah modus korupsi turun-temurun sejak 1985…”

Tapi sebelum Rani bisa mengambilnya, lampu kristal di langit-langit pecah berantakan. Kaca-kaca tajam berhamburan seperti hujan pisau.

“BERANI KAU MENJAMAH BARANG KAMI!”

Suara itu menggema dari segala arah. Dari dinding, lantai, bahkan dari dalam diri mereka sendiri.

Permainan Pikiran Pocong Merah

Ruangan tiba-tiba dipenuhi kabut merah. Rani dan Bima terpisah. Di tengah kabut, sosok Pocong Merah muncul dengan wajah yang terus berganti: terkadang Sutarman, terkadang Dimas, bahkan wajah Rani sendiri yang sudah membusuk.

“PILIH!” suaranya mengguncang ruangan.

Adegan di sebelah kiri Rani: Bima digantung dengan tali pocong, matanya melotot memohon.

Adegan di sebelah kanan: Dokumen pengakuan Ketua DPRD terbakar, abunya menyala seperti kunang-kunang.

“Kau bisa selamatkan temanmu… atau bakar bukti itu,” bisik Pocong Merah dengan suara Mbah Sarnen.

Rani menggigit bibir sampai berdarah. Tapi tiba-tiba, ia ingat sesuatu: di video microfilm, ada adegan kakek Ketua DPRD menyembunyikan kunci lemari besi di balik lukisan Semar.

“Aku tidak akan jatuh ke perangkapmu!” teriak Rani, berlari ke lukisan itu. Dengan nekat, ia merobek kanvasnya. Di baliknya, lemari besi berkarat terpajang.

Pocong Merah menjerit marah. Seluruh ruangan bergetar.

Pengakuan Sang Ketua

Di dalam lemari besi, Rani menemukan tumpukan surat wasiat dan rekaman video. Salah satu DVD bertuliskan: “Untuk Anakku, jika aku mati.”

Di layar laptop Bima, video itu diputar. Sang Ketua DPRD—kini mengenakan kemeja tahanan—duduk di ruang kerjanya dengan wajah hancur:

“Jika kau melihat ini, berarti arwah Sutarman sudah mendekat. Ayahmu dan aku membunuhnya tahun 1985. Tapi… itu bukan terakhir. Setiap 10 tahun, kami harus memberi tumbal baru ke Pocong Merah agar bisnis kami aman. Dimas… kawannya… mereka semua tumbal. Maafkan ayah…”

Bima menjatuhkan laptopnya. “Jadi… kakakku…?”

Sebelum Rani menjawab, pintu ruang rapat terbanting. Sang Ketua DPRD sendiri berdiri di sana, dikelilingi preman berseragam hitam. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar liar.

“Kau kira bisa kabur?” hardiknya.

Tapi Pocong Merah sudah ada di belakangnya.

Kutukan yang Terpenuhi

Sutarman muncul dalam wujud paling mengerikan: tubuhnya setengah membusuk dengan kain merah menyala seperti api. Tangannya meraih sang Ketua DPRD.

“DARAH KELUARGAMU HARUS TERBAYAR.”

Preman-preman itu mencoba menembak, tapi peluru meleleh di udara. Pocong Merah mengangkat sang Ketua ke langit-langit, di mana rantai-rantai hantu muncul dan mengikatnya persis seperti Sutarman dulu.

“TOLONG! AKU AKAN MENGAKUI SEMUA!” teriak sang Ketua.

Tapi Pocong Merah hanya tertawa—suara ribuan orang kesakitan. “TERLAMBAT.”

Dengan gerakan cepat, tali pocong melilit leher sang Ketua. Tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya diam, mata terbuka lebar penuh kengerian.

Di bawahnya, dokumen-dokumen korupsi terbakar sendiri, membentuk abu yang membisu: “AKU BERSALAH.”

Dendam yang Tak Pernah Mati

Pasca-Kejatuhan

Kantor DPRD Jogja kini menjadi pusat keributan. Pagar besinya dikepung ratusan massa yang meneriakkan "Usut tuntas korupsi!", sementara polisi berjaga ketat. Media nasional menyiarkan rekaman video pengakuan sang Ketua DPRD yang viral semalam—wajah hancurnya diikuti jeritan terakhir sebelum Pocong Merah membunuhnya menjadi tontonan jutaan orang.

Rani duduk di warung kopi seberang jalan, matanya sembab. Sejak kejadian seminggu lalu, ia jadi buruan. Tak hanya elit politik, tapi juga orang-orang tak dikenal yang mengirim ancaman: "Diam, atau kau berikutnya." Di tangannya, surat kabar dengan headline "KETUA DPRD JOGJA TEWAS GANTUNG DIRI, KORUPSI TRILIUNAN TERUNGKAP". Tapi Rani tahu kebenarannya: itu bukan bunuh diri.

Bima, yang kini menghilang setelah malam itu, mengirim satu pesan: "Mereka tidak akan berhenti. Pocong Merah juga tidak."

Sang Ketua Baru

Upacara pelantikan Ketua DPRD baru berlangsung di gedung yang sama. Gatot Subroto, politisi muda berpengaruh, terpilih dengan slogan "Reformasi Total". Tapi Rani melihat sesuatu yang mengerikan: di balik jas hitamnya, sehelai kain merah terselip di saku—persis seperti yang pernah ia lihat di meja Dimas.

Malam itu, Rani menyusup ke ruang kerja Gatot. Komputernya masih menyala, menampilkan email berisi instruksi transfer dana aspirasi ke rekening offshore. Di laci, ia menemukan liontin naga yang sama dengan milik Bima dan Bambang.

"Kau tidak pernah belajar dari sejarah, ya?"

Rani menoleh. Gatot berdiri di pintu, senyumnya dingin. Di belakangnya, dua preman berseragam hitam menghunus pisau.

"Kau pikir membunuhku akan menghentikan ini?" Rani mencoba tenang.

Gatot tertawa. "Kami tidak perlu membunuhmu. Dia yang akan melakukannya."

Lampu padam. Suara kain merah berdesir mendekat dari plafon.

Ritual Terakhir

Rani berlari ke ruang bawah tanah, jantungnya berdegup kencang. Di sana, di depan peti mati Sutarman yang kosong, ia menemukan Bima terbaring lemah dengan luka bakar aneh di dada.

"Rani… kau harus… bakar ini," bisiknya sambil menyerahkan kertas doa beraksara Jawa. "Ritual terakhir Mbah Sarnen. Hancurkan kuburannya."

Tapi sebelum Rani sempat bertindak, Pocong Merah muncul dari dinding. Tubuhnya kini lebih besar, kain merahnya menyala seperti lava, dan wajahnya adalah perpaduan Sutarman dan semua korbannya—termasuk Dimas.

"AKU ADALAH KORUPSI. AKU TAK AKAN PERNAH MATI."

Rani membaca mantra dari kertas itu, suaranya gemetar. "Kembalilah ke tanah, wahai yang terjebak di antara dunia…"

Pocong Merah menjerit, tubuhnya mengeluarkan asap hitam. Tapi tiba-tiba, Gatot muncul dari belakang dan merebut kertas doa.

"Ritual kuno tidak akan menghentikan kami!" hardiknya, merobek kertas itu.

Pengorbanan Rani

Dengan putus asa, Rani mengambil liontin naga dan menusukkannya ke telapak tangannya. Darah menetes ke peti mati Sutarman.

"Jika kau memang arwah penuntut keadilan, BANTU SAYA!" teriaknya.

Peti mati bergetar hebat. Sutarman muncul dalam wujud terakhir: sosok raksasa dengan ratusan wajah korban korupsi berganti-ganti di tubuhnya. Ia mengangkat Gatot ke udara.

"DARAHMU ADALAH TUMBAL TERAKHIR."

Tali pocong merah melilit Gatot, menyedot nyawanya hingga hanya tersisa kulit kering. Tapi Pocong Merah tidak berhenti.

"TERLALU BANYAK KEJAHATAN. AKU TIDAK BISA BERHENTI."

Sutarman menoleh ke Rani, matanya berlinang darah. "BEBASKAN AKU…"

Rani mengambil korek api dan membakar dokumen korupsi di peti mati. Api menyambar kain merah Sutarman, menjalar ke seluruh ruangan.

Epilog: Kain Merah di Meja Baru

Tiga bulan kemudian, Rani duduk di kantor LBH Yogyakarta sebagai relawan. Kasus korupsi DPRD ditutup dengan 12 tersangka, tapi Gatot hanya jadi kambing hitam.

Malam itu, saat ia pulang lembur, sehelai kain merah tergeletak di meja kerjanya. Pesan darah tertulis: "TERIMA KASIH TELAH MEMBEBASKAN AKU. TAPI MEREKA MASIH ADA."

Di sudut ruangan, bayangan Mbah Sarnen melambai sebelum menghilang.

Sementara itu, di gedung DPRD baru yang sedang dibangun, seorang pekerja menemukan tulang-belulang terbungkus kain merah di fondasi. Tapi atasannya memerintahkan: "Timbun saja. Ini untuk keberkahan proyek."

Suara tertawa parau bergema dari bawah tanah.

(Selesai)

Komentar